Suhu tubuh Ustadz Nur Yahya Asa (45 tahun) melonjak tinggi. Pria ramah ini seolah tak mampu menguasai diri. Perilakunya mulai tak terkendali.

Pernah suatu saat ia melihat seorang Muslimah yang mengenakan hijab rapi, spontan dia mengapresiasinya, “Wah, cantik sekali Anda kalau pakai jilbab begini.”

Tentu saja apresiasi yang salah tempat, sebab Muslimah itu bukan mahramnya. Apalagi Yahya dikenal sebagai seorang dai, tentu tak elok memuji-muji wanita yang ditemuinya.

Karena semakin kehilangan konsentrasi, maka keluarga dan teman-temannya bersepakat membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Sampai ruang perawatan, kaki tangannya diikat agar tak banyak tingkah.

Nur Kholisah, sang istri, menyaksikan adegan itu dengan deraian air mata. Ketika kesadarannya timbul, Yahya berkata, “Sabar ya, ini ujian. Pasrahkan kepada Allah.”

Seminggu jadi pasien RSJ, dokter akhirnya memperbolehkan pulang. Katanya, Yahya tak mengalami gangguan jiwa. Usut punya usut, yang menyebabkan tubuhnya panas tinggi dan kehilangan konsentrasi adalah penyakit malaria.

Penyebab lain, kondisi kekurangan gizi. Saat itu tahun 2000, ia dan teman-temannya tengah merintis Pesantren Hidayatullah Bangka Belitung. Sebagaimana dai-dai Hidayatullah lainnya, tak ada bekal materi memadai. Bahkan keluarganya tak mampu makan nasi sekitar tiga bulan, karena memang taka da uang sepeser pun untuk membeli beras. Yahya, istri dan anaknya yang masih bayi sehari-hari hanya makan singkong.

Yahya ingat betul, anaknya yang kala itu baru berusia sembilan bulan ikut mengalami gizi buruk. Perkembangan fisiknya tak seperti anak-anak sebayanya.

Namun Allah SWT tak menyianyiakan mujahadah (kesungguhan) hamba-Nya. Tak lama setelah mengalami peristiwa yang tak terlupakan itu, Yahya dan kawan-kawan mendapat amanah mengelola bekas tambang timah pemberian kepala desa. Juga membeli sebidang tanah di lokasi lain. Inilah yang menjadi cikal bakal Pesantren Hidayatullah Bangka Belitung.

CITA-CITA MENJADI DAI

Pertengahan tahun 1980-an, Nur Yahya Asa lulu dari SMP Negeri 3 Cilacap (Jateng). Ketika ditanya tentang cita-citanya, jawabannya bukan menjadi pilot, dokter, guru, pengusaha, atau profesi lain seperti biasa dibayangkan anak-anak, namun ingin menjadi dai pelosok desa.

Spontan orang-orang sekitarnya tertawa. Bahkan kakaknya sendiri mencibirnya. “Kampungan sekali cita-cita kamu!,” kata kakaknya waktu itu.

Sang kakak mengarahkan studi yang sama sekali tak ada hubungannya dengan aktivitas seorang dai. Yahya menurut saja sebagai bentuk penghormatannya. Qadarullah, ia tak lolos seleksi.

Yahya kemudian merantau ke Maluku. Tujuannya ingin bekerja sambal sekolah di sana. Akhirnya ida bekerja di sebuah perusahaan. Sayang, ritme kerja yang padat tak memberinya kesempatan untuk sekolah. Ia akhirnya memilih angkat kaki.

Kini fokusnya hanya satu, yaitu ingin belajar di pesantren. Tanya sana-sini, belum juga memperoleh gambaran. Yahya akhirnya menuju Manado, naik kapal.

Di kapal, Yahya bertemu seorang habib. Setelah berkenalan dan berbincang beberapa saat. Ia kemudian mengutarkan niatnya. Mulailah ada titik terang. “Kalau yang ingin dituju adalah pondok pesantren di luar Jawa, kamu pergi saja ke Balikpapan. Di sana ada Pesantren Hidayatullah,” Yahya menirukan saran habib.

Namun, Yahya kemudian mencari-cari pesantren di sekitar Manado. Tentu tak mudah karena di kawasan ini memang jarang ada pesantren.

Alhamdulillah, Allah SWT menunjukan jalan. Ketemulah dengan Pesantren Nur Islam di Desa Kinilow, Tomohon. Saat tiba di sana, pas bertepatan dengan acara seremonial penyerahan pesantren kepada para dai Hidayatullah Sulawesi. Akhirnya Yahya memutuskan untuk nyantri di sini.

MERINTIS PESANTREN

Tinggal di pesantren, sungguh dirindukan. Namun tak bisa lama. Datang sepucuk surat dari orangtuanya di kampung halaman. Yahya di suruh kembali ke Cilacap. Anak ketiga dari delapan bersaudara ini tak kuasa menolak.

Sebelum pulang kampung, Yahya sempat transit ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Ia berkesempatan berbincang dengan beberapa ustadz. Salah satu ustadz menyarankan tak usah pulang, namun tinggal saja di pesantren sebagaimana cita-citanya. Urusan orangtua, nanti akan dikomunikasikan oleh pihak pesantren.

Ya, akhirnya Yahya memutuskan tinggal di pesantren. “Niat awalnya hanya transit, tapi akhirnya justru menjadi salah satu santri Madrasah Aliyah (MA) angkatan pertama Pesantren Hidayatullah Balikpapan,” kenang putra pasangan Abu Sairi dan Surtinah ini.

Lulus MA (1993), Yahya langsung “ditembakkan ke Aceh. Tugasnya adalah membantu perintisan pesantren di Lhokseumawe.

Sungguh tak mudah seorang santri lulusan Aliyah harus berdakwah di Serambi Makkah. Banyak pihak yang memandang dengan mata sebelah. Bahkan ketika Yahya mengurus perizinan pesantren, seorang pegawai negeri mengomentari, “Kalau pesantren Anda jadi, potong jari saya!”

Situasi di Aceh saat itu pun kurang kondusif. Banyak terjadi kerusuhan dan bahkan perang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengna aparat keamanan. Nyawa Yahya dan kawan-kawan senantiasa terancam.

Ngerinya situasi tak menciutkan nyali. Selain merintis pesantren, Yahya dan kawan-kawan juga terus berdakwah sampai kawasan pedalaman dan pegunungan. Jika harus berangkat ke daerah semacam itu, Yahya berpesan kepada istri agar mengikhlaskannya. Sewaktu-waktu bisa saja ia pulang tinggal nama.

Begitu tiba di daerah tujuan, jamaah pengajian juga merasa heran. Kok bisa sampai? “Saya jawab saja, karena pertolongan Allah,” ujarnya.

Enam tahun lamanya Yahya berdakwah di Aceh. Alhamdulillah, Pesantren Hidayatullah Lhokseumawe terus berkembang. Dukungan datang dari berbagai kalangan. Pesantren ini menampung anak-anak miskin, yatim piatu, dan terlantar. Mayoritas adalah anak-anak korban kerusuhan.

Selanjutnya Yahya berdakwah ke kawasan Batam dan Tanjung Balau Karimun (Kepulauan Riau), Bangka Belitung, Tarakan dan Bulungan (Kalimantan Utara). Kini Yahya diamanahi sebagai Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara.

Dakwah jalan terus. Berbagai ujian datang silih berganti. “Saya meyakini bahwa pertolongan Allah pada setiap hamba-Nya itu sangat dekat. Karena itu, saya menilai ujian di jalur dakwah itu asyik,” katanya sambal tersenyum.

Baginya, jalan dakwah adalah kemulian hidup bagi seorang Muslim. Aktivitas ini perlu dukungan semua pihak, termasuk orang terdekat seperti istri.

“Muslimah yang menikah dengan seorang dai bukan hanya berperan sebagai istri, tapi juga mitra dakwah, sehingga senantiasa setiap mendampangi suami dalam senang maupun susah,” pungkasnya.

Persaudaraan Dai Indonesia atau yang disingkat PosDai adalah lembaga non profit yang berkhidmat menaungi kiprah para dai yang tersebar di seluruh Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here