Sekitara dua puluh pemuda bergegas hendak menyerang pesantren rintisan Abdul Majid.  Mereka geram, lantaran rumah sesembahan yang mereka keramatkan dihancurkan oleh pihak pesantren. Tapi, tiba-tiba di tengah perjalanan seorang penduduk mencegah setelah mengetahui tujuan mereka.

“Jangan berani-berani mengganggu pesantren. Orang-orang di dalamnya itu berani mati demi agama,” peringatan laki-laki itu, sebagaimana ditirukan Majid, yang tak disangka langsung menyiutkan nyali puluhan pemuda sehingga memilih balik kanan.

Bangunan pesantren dan warga pesantren selamat. Menurut Majid, itu semua berkat pertolongan Allah SWT semata. Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Tamalanrea Raya No. 26, Makassar, saat itu, selain dipenuhi semak belukar, juga dikenal angker oleh warga sekitar. Tidak ada warga yang berani melintas. Di dalamnya terdapat rumah sesembahan. Tempat itulah yang dihancurkan, yang kemudian menyulut amarah segerombolan pemuda.

Menurut pria kelahiran 1964 ini, penghancuran tempat itu untuk menghindari segala bentuk kesyirikan. Selain itu, untuk menghilangkan pemandangan yang tak sedap dipandang mata di lingkungan pesantren.

Majid mengawali dakwah di Makassar, sejak tahun 1991. Bersama dua kawannya ia mendapat amanah dari pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said untuk merintis pesantren. Laki-laki asli Palopo, Sulawesi Selatan ini mengungkapkan, tidak modal materi yang dibawa. Untuk tempat tinggal saja, mereka mengontrak dengan hasil uang pinjaman.

Sesampainya di medan dakwah, mereka langsung bergerak mencari tanah wakaf. Namun, mencari tanah wakaf di Makassar waktu itu, ibara mencari jarum di lumbung padi. Sulit sekali. Nyaris dua tahun lamanya menggalakkan silaturahim, tapi berakhir dengan kegagalan.

Meski demikian, penghobi membaca sejarah Islam ini tak pudar semangatnya. Ibadah kepada Allah terus ditingkatkan, khususnya pada seperempat malam terakhir (shalat Tahajud). Bermunajat kepada-Nya, menjadi sejata utama mereka untuk terus berpacu.

Allah Maha Pengabul doa, akhirnya memberikan jalan keluar. Mereka dapat lahan yang luasnya sekitar setengah hektar. Majid lalu mendirikan sebuah gubuk dari potongan kayu, bamboo, dan daun-daunan. Di sinilah Majid tinggal.

Namun, tantangan lain langsung menghadang. Putra pasangan Mahmud dan Suryati ini mengungkapkan, ia kesulitan mencari santri. Sudah berusaha dengan cara ‘door t door’, tapi selalu menemui jalan buntu.

“Alasannnya beragam. Ada orangtua yang mau, anaknya yang engggan, atau sebaliknya. Ada juga yang termakan isu pesantren mengajarakan ajaran sesat, karena shalatnya lama sekali dan selalu shalat di seperempat malam (Tahajud),” ungkap Majid.

Hampir satu setengah tahun pesantren yang dirintisnya vakum. Barulah ketika ia berjumpa dengan seorang warga desa lain yang memiliki banyak anak. Secercah harapan itu muncul. Permasalahannya justru datang dari pihak kelurahan. Mereka tidak mengizinkan. Sudah menjadi tradisi di desa itu bila ada warganya yang keluar kampung, harus seizing kelurahan.

Alasannya, mereka khawatir keberadaan pondok hanyalah sebagi kedok untuk memanfaatkan orang-orang miskin. “Kami jelaskan, bahwa lembaga kami tidak seperti itu. Tapi mereka masih tidak menerima. Akhirnya, secara diam-diam, kami bawa saja anak warga itu ke pesantren. Yang penting orang tuanya menyetujui,” kenangnya.

Sejak kehadiran santri awal itu, lambat laun satu per satu santri kemudian berdatangan. Semakin hari semakin bertambah kepercayaan masyarakat. Selain menghidupkan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), juga didirikan lembaga pendidikan formal, seperti TK, SD, dan SMP.

Berhasil merintis pesantren di Makassar, anak ke tujuh dari 12 bersaudara ini sempat beberapa kali diterjunkan di daerah lain untuk kembali merintis pesantren. Di antaranya, Mamuju, Palopo dan Kendari.

AKTIFIS KAMPUS

Sebelum bergabung dengan Hidayatullah, Majid sejatinya sudah lama akrab dengan dunia dakwah. Sejak SMA ia aktif di organisasi keislaman. Ketika kuliah, jiwa aktifisnya semakin terasah dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Hasanuddin Makassar (UNHAS).

Ketika berkecimpung di HMI, ada yang menggelisahkan hatinya. Karena itu, ia dan teman-teman yang sevisi, salah satunya Abdul Aziz Kahar Mudzakkar, merencanakan perubahan. Meski banyak senior yang mendukung gebrakan mereka, tapi yang menentang juga banyak. Bahkan mengancam. Syukur, semuanya berjalan lancar.

Setelah lulus dari UNHAS, Majid bersama kedua sahabatnya itu bertandang ke Hidayatullah di Balikpapan.  Keterpikatan mereka kepada sosok Ustadz Abdullah Said, yang pernah mengisi pengajian di Makassar menjadi magnet.

Ketika sampai di pesantren, suami Maimunah Nur (almarhumah) dan Rahmatiah Nur ini mengaku kagum dengan praktek keislaman warga pesantren. Ia lihat antusias dan keseriusan warga dalam melaksanakan shalat. Hubungan persaudaraan antar mereka juga terasa sangat erat. Rasa saling menghormati satu sama lain dijunjung tinggi.

“Ketika melihat fenomena itu, merasa dakwah kami yang selama ini dijalankan tidak ada apa-apanya, masih tataran teori. Beda dengan yang kami saksikan di pesantren, benar-benar aplikatif,” ucapnya.

Dan, inilah awal mula bergabungnya Majid dengan Hidayatullah.

FOKUS DAKWAH

Dakwah bagi Majid adalah pilihan hidup. Oleh karena itu, ia ingin terus istikamah dan fokus menapakinya. Bila ada tawaran kerja menghampiri, maka tak sungkan ia menepis meski diimingi limpahan materi.

“Pernah dulu ada seorang direktur perusahaan menawari kerja. Belum lama setelah menyelesaikan studi S2, juga datang tawaran lain untuk menjadi dosen di salah satu universitas Islam tersebar di Makassar. Semua tidak saya terima,” papar sosok yang pernah dipercaya memangku amanah Ketua PW Hidayatullah Sulawesi Selatan dua periode ini.

Soal rezeki, Majid tak ambil pusing. Ia meyakini Allah telah menentukan bagian bagi setiap makhluk-Nya. Keluarganya pun ia arahkan untuk menjadi pribadi yang bersyukur terhadap anugerah yang Allah berikan, sekecil apapun itu.

“Saya tanamkan kepada keluarga, ‘Yakinlah bahwa dengan ikhlas mengurus Islam (berdakwah), Allah akan memberi kemudahan kepada kita,” pungkas pengidola HAMKA dan M. Natsir ini.

Persaudaraan Dai Indonesia atau yang disingkat PosDai adalah lembaga non profit yang berkhidmat menaungi kiprah para dai yang tersebar di seluruh Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here